Cahaya Dibalik Layar Kaca PBAO

Rabu, 03 September 2025


    Tepat sekitar jam 13.15 siang hari, dengan cerah dan teriknya sinar matahari tampak begitu cerianya menyinari bumi pada hari ini setelah beberapa hari sering tertutupi oleh awan gelap. Sejak tanggal 01 September lalu merupakan awal masuk perkuliahan setelah dua bulan libur panjang. Namun dikarenakan kondisi Indonesia sedang tidak baik-baik saja sejak satu pekan terakhir di bulan Agustus, maka dari itu rektor mengeluarkan surat pemberitahuan bahwa perkuliahan tanggal 01-02 September berlangsung secara daring. Tapi ternyata rektor mengeluarkan surat pemberitahuan lagi kalau perkuliahan daring diperpanjang sampai tanggal 04 September 2025. Hari ini di kelas ku ada mata kuliah Penulisan Berita, Artikel, dan Opini yang diampu oleh Prof. Dr. Ngainun Naim, S.Ag, M.H.I.. Kelas hari ini dilaksanakan secara daring sesuai arahan dari rektor, karena untuk mengantisipasi dan mengurangi berkumpul saat situasi kurang kondusif seperti sekarang. 

    Semester ini adalah kali ketiga beliau mengajar di kelas KPI D, sebelumnya beliau sudah pernah mengajar pada semester satu dan dua kelas D. Dikarenakan kuliah daring, penanggungjawab mata kuliah pun langsung membagikan link google meet sebagai media belajar pada hari ini. Diawali dengan pembukaan oleh Prof. Naim untuk mengawali kuliah di semester ini, kemudian beliau memaparkan tentang mata kuliah yang akan diampu pada semester ini yaitu Penulisan Berita, Artikel, dan Opini. Beliau mengatakan kalau mata kuliah ini merupakan perpaduan antara dunia jurnalistik dan penulisan. Jadi nantinya dalam mata kuliah PBAO ini akan mempelajari tentang bagaimana cara menulis berita, artikel, dan opini dari peristiwa yang ada disekitar kita.

    Dalam penulisan berita, kita harus lebih peka terhadap kejadian yang ada disekitar. Apapun bisa dijadikan berita oleh seorang jurnalis atau wartawan, Ia peka dan tau bahwa berita itu tidak biasa karena tidak semua orang tau dan tidak semua orang peduli. Prof. Naim memberikan contoh, ada seorang mahasiswa diberikan tugas untuk membuat berita, Ia berencana untuk mengunjungi acara konser yang bintang utamanya yaitu band Hindia, namun tiba-tiba ada pemberitahuan kalau konsernya dibatalkan karena ada beberapa kendala. Jadinya mahasiswa yang awalnya ingin membuat berita tentang konser band Hindia, dia tidak jadi menulis beritanya, ketika ditanya "Mana berita anda?", dia pun menjawab "Konsernya ditunda Prof, jadi saya tidak mendapatkan beritanya". Dari batalnya acara tersebut itupun bisa kita jadikan sebuah berita, sambung beliau.

    Menurut Prof. Naim berita adalah sesuatu yang menurut orang umum biasa, tetapi menjadi tidak biasa dimata pencari berita. Dari contoh tadi, kita jangan hanya memahami data dan fakta secara literal atau apa adanya saja, tapi cobala untuk menemukan sisi lain dari sesuatu yang kita amati tersebut. Terutama bagi seorang jurnalis, mereka dituntut untuk bisa membuat berita dalam siatuasi apapun serta lebih peka terhadap yang terjadi disekitar agar semuanya bisa menjadi sebuah berita yang menarik. Menurut ku, sebuah pulpen saja bisa dijadikan berita seperti "Hanya Bermodal Pulpen, Seorang Remaja Berhasil Meraih Cita-citanya". Maksudnya adalah dengan kita belajar yang rajin dan tekun, serta mengerjakan semua tugas yang diberikan oleh guru atau dosen, pastinya dalam proses itu seorang pelajar selalu bersahabat dengan pulpen, yang membantu memudahkannya dalam menulis. Maka dari itu hal sederhana dan mudah yang ada disekitar kita bisa dijadikan sebuah berita yang menarik. Pemilihan kata juga akan mempengaruhi rangkaian kata-kata dalam berita yang kita buat. Setelah membahas tentang berita, Prof. Naim memaparkan tentang artikel. Menurut beliau, artikel adalah tulisan bergaya ilmiah populer. Namun kata 'populer' berarti tergantung medianya. Ada media berita online yang mengkonsep penulisan artikel yang bergaya ilmiah, ada yang bergaya poluler, dan ada yang memadukan keduanya. 

    Itulah tadi sekilas pemaparan materi tentang berita dan artikel yang akan dibahas dalam satu semester ini oleh Prof. Naim. Beliau meneruskan lagi, "Asal bisa dan mau membaca, semua orang bisa menulis". Beliau menyarankan untuk meminimalkan penggunaan teknologi dalam belajar, tapi maksimalkan membaca dan kembangkan potensi diri di usia muda. Karena jika umur sudah beranjak cukup tua, kenikmatan belajar seperti umur 20 tahunan seperti sekarang akan berbeda rasanya. Kemampuan untuk berpikir pun sedikit sulit dilakukan ketika usia sudah lumayan tua. Otak itu harus dilatih terus untuk berpikir agar dia tidak lupa bagaimana caranya bepikir. Aku sedikit ingat, tadi kalau Prof. Naim bercerita pernah menjadi dosen temannya yaitu mahasiswa S2, yang dulunya mereka sama-sama S1 namun teman beliau baru melanjutkan pendidikannya lagi setelah beberapa tahun. Beliau mengatakan kalau mengajar mahasiswa S1 dan S2 berbeda apalagi jika usianya sudah jauh dari 20-an.

    Prof. Naim melanjutkan dengan pertanyaan kenapa kita penting untuk belajar penulisan?, karena keterampilan menulis berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan yang kita hadapi secara lebih baik. Juga membuka peluang yang lebih luas untuk meniti karir yang lebih cemerlang. Dunia menulis itu bukan bakat, bakat hanya 1% selebihnya 99% yaitu latihan. Kesulitan menulis disebabkan oleh kurangnya jam terbang, maka dari itu tugas kita adalah meningkatkan kualitas menulis sering-sering berlatih maka nanti dengan sendirinya kita terbiasa menulis bahkan dalam kondisi apapun. Beliau bercerita kalau suatu ketika diminta tolong membuat opini suatu berita dari salah satu media, namun saat itu beliau sedang diperjalanan. Alhasil beliau tetap bisa mnulis sebuah opini sebanyak sepuluh paragraf saat diperjalanan itu, setelah tiga jam langsung beliau kirimkan opini tersebut pada media tadi untuk kemudian diedit. Beliau sudah bisa menulis dalam kondisi dan situasi apapun seperti saat dalam perjalanan tersebut karena beliau sering berlatih menulis untuk meningkatkan jam terbang agar terbiasa.

    Sebelum kata salam penutup diucapkan, waktu menjadi pengingat atas pembelajaran daring di siang hari ini yang telah berlangsung kurang lebih selama satu jam berlalu. Prof. Naim menutup pembelajaran siang hari ini dan insyaAllah akan disambung pada pertemuan berikutnya. Meskipun semester ini diawali dengan pembelajaran daring, hal itu tidak mematahkan semangat teman-teman kelas KPI 5D untuk mengikuti belajar daring hari ini. Dengan demikian, layar kaca bukanlah penghambat kita untuk mencari dan menerima ilmu, justru itu adalah salah satu cara yang sangat membantu disaat situasi sedang tidak kondusif jika memaksakan untuk tetap melaksanakan perkuliahan secara luring di kampus. Banyak sekali ilmu baru yang ku dapatkan hari ini, tentang betapa pentingnya kita untuk terus membaca dan berlatih menulis, karena kita tidak tau mungkin dikemudian hari suatu hal bermanfaat yang dikerjakan pada hari ini dapat membantu kita dikemudian hari. Pergunakanlah waktu-waktu di masa muda untuk belajar, berlatih, dan mengasah kemampuan berpikir, agar otak kita tidak kehilangan fungsi. Terima kasih Prof. Dr. Ngainun Naim, S.Ag, M.H.I, atas ilmu yang diberikan pada perkuliahan pertama di semester lima ini. 


Oleh: Kurnia Wahyuningtias



Komentar

Posting Komentar