Menurut aku sih ga apa-apa banget kalau kita ambil jeda sejenak menghindari keramaian, mengasingkan diri, dan pergi sendirian ke suatu tempat yang membuat jiwa kita tenang. Setelah merantau kurang lebih dua tahun ini, aku rasa kalau diri ku ini sudah cukup mandiri dari sebelumnya. Kalian pernah nemuin orang yang apa-apa minta temenin dan ga berani kalau ngapa-ngapain sendirian? Atau kamu salah satunya? Ya aku ga bakal bahas salah atau benarnya, tapi aku bakal bahas tentang proses dan keadaan. Kamu percaya ga kalau wanita mandiri itu tumbuh dari keterpaksaan keadaan? Kenapa aku bisa bertaya seperti itu, karena sekarang aku sudah berdamai dan lebih mencintai diri ku, aku percaya bahwa diri ku bisa.
Suatu hari aku berencana untuk ke sebuah tempat, sebenarnya tujuan awal ku kesana ingin membuat video vlog untuk mempromosikan wisata alam yang ada di Tulungagung, sebagai keperluan kompetisi yang aku ikuti saat itu. Aku berangkat dari rumah mbah ku sekitar jam setengah 7 pagi, yang mana kondisi pagi itu disertai rintik tipis, namun aku tetap saja menyalakan motorku dan menembus rintik yang mengenai jaket ku. Karna malamnya aku sudah melihat lokasi lewat google maps, dan aku sepertinya bisa menghapal jalan itu, aku terus saja melintir gas motor ku untuk melaju sesuai bayangan ku.
Di tengah perjalanan seketika aku teringat kalau nilai rupiah di dompet ku sudah menipis, jadi aku berhenti sebentar di sebuah toko kelontong pinggir jalan untuk mengambil uang lewat BRI link. Sebenernya aku sudah hampir sampai ke lokasinya, namun untuk lebih memastikannya lagi aku bertanya pada ibu toko itu tentang lokasi yang ingin aku tuju. Dia bilang kalau lokasinya tidak jauh lagi dari toko ini.
Setelah percakapan itu, aku langsung menuju ke motor ku untuk mengendarai sampai ke lokasi tujuan. Menurut ku, aku bukan tipe orang yang sering bergantung pada orang lain, maksudnya yang berlebihan gitu. Jadi aku lebih suka ke mana-mana sendiri, karna aku pikir biar lebih efisien dan juga gak ribet, ya kan yang dipikirkan hanya lokasi tujuan dan diri sendiri. Disaat jarak beberapa meter lagi menuju lokasi, aku disambut dengan pepohonan yang berdiri kokoh, rimbun, dan tinggi yang ada di tepi jalan. Tidak hanya itu, aku pun juga di sambut dengan tebing yang tinggi tepat disisi kanan ku. Di tebing itu, papan bertulisan "Hati-hati, rawan longsor", seakan-akan juga menyambut kedatangan ku.
Sesat aku tiba disana, aku sangat suka sekali dengan suasanyanya. Adem, dikelilingi pepohonan, dan parkirannya cukup saja bagi ku. Untuk tiket masuk dibadrol dengan harga 10k/orang, dan parkir motor 2k. Seiring kaki ku melangkah maju mulai memasuki tempat yang belum pernah aku kunjungi ini, dalam hati ku seraya berkata "MasyaAllah, indah bangett". Aku langsung jatuh cinta dengan suasananya. Aku pikir pagi itu bakal sepi, tapi lumayan juga sih sudah ada pengunjung lain yang sudah datang, bahkan ada yang satu keluarga untuk menikmati keindahan alamnya.
Oh iya, dari tadi aku cuma bilang ke suatu tempat aja ya? dan tempatnya itu di alam. Tapi, aku belum memberi tau nama tempatnya. Nah, nama tempatnya ini yaitu "Ranu Gumbolo", tapi kamu jangan bayangin dengan Ranu Kumbolo ya, karna bakal berbeda, ya hanya namanya saja yang hampir mirip. Di tempat wisata ini sejuk banget sesuai dengan yang aku bilang tadi, kemudian banyak untuk tempat istirahatnya seperti kursi atau pun pendopo. Buat ku sih ini worth it ya, karna emang seindah itu, tempat ini rekomen banget untuk cah Tulungagung sing bingung mau cari tempat wisata alam.

Komentar
Posting Komentar